Kamis, 28 November 2013

ASKEP LEUKIMIA



ASUHAN KEPERAWATAN
( LEUKEMIA )
 


OLEH :
SRIANTO HARDIAWAN
( 10 3145 105 074 )


STIKES MEGA REZKI MAKASSAR
2013 
 
 
 
BAB I.
KONSEP DASAR UMUM

A.    Pengertian
Leukimia adalah proliferasi sel darah putih yang masih imatur dalam jaringan pembentuk darah. (Suriadi, & Rita yuliani, 2001 : 175).
Leukimia adalah proliferasi tak teratur atau akumulasi sel darah putih dalam sum-sum tulang menggantikan elemen sum-sum tulang normal (Smeltzer, S C and Bare, B.G, 2002 : 248 ).
Leukimia adalah suatu keganasan pada alat pembuat sel darah berupa proliferasio patologis sel hemopoetik muda yang ditandai oleh adanya kegagalan sum-sum tulang dalam membentuk sel darah normal dan adanya infiltrasi ke jaringan tubuh yang lain. (Arief Mansjoer, dkk, 2002 : 495).
Berdasarkan dari beberapa pengetian diatas maka penulis berpendapat bahwa leukimia adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh prolioferasi abnormal dari sel-sel leukosit yang menyebabkan terjadinya kanker pada alat pembentuk darah.

B.    Etiologi
Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor predisposisi yang menyebabkan terjadinya leukemia, yaitu :
a.    Faktor genetik : virus tertentu menyebabkan terjadinya perubahan struktur gen (Tcell Leukemia – Lhymphoma Virus/ HLTV).
b.    Radiasi
c.    Obat-obat imunosupresif, obat-obat kardiogenik seperti diethylstilbestrol.
d.    Faktor herediter, misalnya pada kembar monozigot.
e.    Kelainan kromosom, misalnya pada down sindrom. (Suriadi & Rita Yuliani, 2001 : hal. 177)
Leukemia biasanya mengenai sel-sel darah putih. Penyebab dari sebagian besar jenis leukemia tidak diketahui. Pemaparan terhadap penyinaran (radiasi) dan bahan kimia tertentu (misalnya benzena) dan pemakaian obat antikanker, meningkatkan resiko terjadinya leukemia. Orang yang memiliki kelainan genetik tertentu (misalnya sindroma Down dan sindroma Fanconi), juga lebih peka terhadap leukemia.
C.    Manifestasi klinik
    Manifestasi klinik yang sering dijumpai pada penyakit leukemia adalah sebagai berikut :
a.    Pilek tidak sembuh-sembuh
b.    Pucat, lesu, mudah terstimulasi
c.    Demam dan anorexia
d.    Berat badan menurun
e.    Ptechiae, memar tanpa sebab
f.    Nyeri pada tulang dan persendian
g.    Nyeri abdomen
h.    Limphedenopathy
i.    Hepatosplenomegaly
j.    Abnormal WBC (Suriadi & Rita Yuliani, 2001 : hal. 177)

D.    Patofisiologi
1.    Normalnya tulang marrow diganti dengan tumor yang malignan, imaturnya sel blast. Adanya proliferasi sel blast, produksi eritrosit dan platelet terganggu sehingga akan menimbulkan anemia dan trombositipenia.
2.    Sistem retikuloendotelial akan terpengaruh dan menyebabkan gangguan sistem pertahanan tubuh dan mudah mengalami infeksi.
3.    Manifestasi akan tampak pada gambaran gagalnya bone marrow dan infiltrasi organ, sistem saraf pusat. Gangguan pada nutrisi dan metabolisme. Depresi sumsum tulang yang akan berdampak pada penurunan lekosit, eritrosit, faktor pembekuan dan peningkatan tekanan jaringan.
4.    Adanya infiltrasi pada ekstra medular akan berakibat terjadinya pembesaran hati, limfe, nodus limfe, dan nyeri persendian (Suriadi, & Yuliani R, 2001: hal. 175).

Terdapat dua mis-konsepsi yang harus diluruskan mengenai leukemia, yaitu : Leukemia merupakan overproduksi dari sel darah putih, tetapi sering ditemukan pada leukemia akut bahwa jumlah leukosit rendah. Hal ini diakibatkan karena produksi yang dihasilkan adalah sel yang immatur.
Sel immatur tersebut tidak menyerang dan menghancurkan sel darah normal atau jaringan vaskuler. Destruksi seluler diakibatkan proses infiltrasi dan sebagai bagian dari konsekuensi kompetisi untuk mendapatkan elemen makanan metabolik (Suriadi, & Yuliani R, 2001: hal. 175).

5.    Pemeriksaan laboratorium dan diagnostik
a.    Hitung darah lengkap complete blood cell (CBC). Anak dengan CBC kurang dari 10.000/mm3 saat didiagnosis memiliki memiliki prognosis paling baik; jumlah lekosit lebih dari 50.000/mm3 adalah tanda prognosis kurang baik pada anak sembarang umur.
b.    Pungsi lumbal untuk mengkaji keterlibatan susunan saraf pusat
c.    Foto toraks untuk mendeteksi keterlibatan mediastinum.
d.    Aspirasi sumsum tulang. Ditemukannya 25% sel blas memperkuat diagnosis.
e.    Pemindaian tulang atau survei kerangka untuk mengkaji keterlibatan tulang.
f.    Pemindaian ginjal, hati, limpa untuk mengkaji infiltrat leukemik.
g.    Jumlah trombosit menunjukkan kapasitas pembekuan (Betz, Cecily L. 2002. hal : 301-302).

6.    Penatalaksanaan Medis
1.    Program terapi
Pengobatan terutama ditunjukkan untuk 2 hal (Netty Tejawinata, 1996) yaitu :
a.    Memperbaiki keadaan umum dengan tindakan :
1.    Tranfusi sel darah merah padat (Pocket Red Cell-PRC) untuk mengatasi anemi. Apabila terjadi perdarahan hebat dan jumlah trombosit kurang dari 10.000/mm³, maka diperlukan transfusi trombosit.
2.    Pemberian antibiotik profilaksis untuk mencegah infeksi.
b.    Pengobatan spesifik
Terutama ditunjukkan untuk mengatasi sel-sel yang abnormal. Pelaksanaannya tergantung pada kebijaksanaan masing-masing rumah sakit, tetapi prinsip dasar pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
1.    Induksi untuk mencapai remisi: obat yang diberikan untuk mengatasi kanker sering disebut sitostatika (kemoterapi). Obat diberikan secara kombinasi dengan maksud untuk mengurangi sel-sel blastosit sampai 5% baik secara sistemik maupun intratekal sehingga dapat mengurangi gejala-gajala yang tampak.
2.    Intensifikasi, yaitu pengobatan secara intensif agar sel-sel yang tersisa tidak memperbanyak diri lagi.
3.    Mencegah penyebaran sel-sel abnormal ke sistem saraf pusat
4.    Terapi rumatan (pemeliharaan) dimaksudkan untuk mempertahankan masa remisi.
c.    Fase Pelaksanaan Kemoterapi :
1.    Fase Induksi
Dimulai 4-6 minggu setelah diagnosa ditegakkan. Pada fase ini diberikan terapi kortikosteroid (prednison), vineristin, dan L-asparaginase. Fase induksi dinyatakan berhasil jika tanda-tanda penyakit berkurang atau tidak ada dan di dalam sumsum tulang ditemukan jumlah sel muda kuurang dari 5%.
2.    Fase profilaksis sistem saraf pusat
Pada fase ini diberikan terapi methotrexate, cytarabine, dan hydrocortison melalui intratekal untuk mencegah invasi sel leukemia ke otak. Terapi irradiasi kranial dilakukan hanya pada pasien leukemia yang mengalami gangguan sistem saraf pusat.
3.    Konsolidasi
Pada fase ini, kombinasi pengobatan dilakukan untuk mempertahankan remisis dan mengurangi jumlah sel-sel leukemia yang beredar dalam tubuh. Secara berkala, dilakukan pemeriksaan darah lengkap untuk menilai respon sumsum tulang terhadap pengobatan. Jika terjadi supresi sumsum tulang, maka pengobatan dihentikan sementara atau dosis obat dikurangi.
2.    Pengobatan imunologik
Bertujuan untuk menghilangkan sel leukemia yang ada di dalam tubuh agar pasien dapat sembuh sempurna. Pengobatan seluruhnya dihentikan setelah 3 tahun remisi terus menerus.



7.    KDM
Proliferasi sel kanker

Sel kanker bersaing dengan sel normal

Untuk mendapatkan nutrisi

Infiltrasi

Sel normal digantikan dengan
Sel kanker


BAB II.
KONSEP DASAR KEPERAWATAN

Menurut American Nursing Association (ANA) proses keperawatan adalah suatu metode yang sistematis yang diberikan kepada individu, keluarga dan masyarakat dengan berfokus pada respon unik dari individu, keluarga, dan masyarakat terhadap masalah kesehatan yang potensial maupun aktual. ( Marilynn E. Doengoes, dkk .2000 : 6 ).
Di dalam memberikan asuhan keperawatan terdiri dari beberapa tahap atau langkah-langkah proses keperawatan yaitu ; pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
A.    Pengkajian
Pengkajian adalah dasar utama dari proses keperawatan, pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu penentuan status kesehatan dan pola pertahanan klien, mengidentifikasi kekuatan dan kebutuhan klien serta merumuskan diagnosa keperawatan. (Budi Anna Keliat, 1994).
Pengkajian pada leukemia meliputi :
a.    Riwayat penyakit
b.    Kaji adanya tanda-tanda anemia :
1)    Pucat
2)    Kelemahan
3)    Sesak
4)    Nafas cepat
5)    Kaji adanya tanda-tanda leukopenia
6)    Demam
7)    Infeksi
8)    Kaji adanya tanda-tanda trombositopenia :
    Ptechiae
    Purpura
    Perdarahan membran mukosa
9)    Kaji adanya tanda-tanda invasi ekstra medulola :
    Limfadenopati
    Hepatomegali
    Splenomegali
10)    Kaji adanya pembesaran testis
11)    Kaji adanya :
    Hematuria
    Hipertensi
    Gagal ginjal
    Inflamasi disekitar rektal
    Nyeri (Suriadi,R dan Rita Yuliani,2001 : 178).

B.    Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan menurut The North American Nursing Diagnosis Association (NANDA) adalah “ suatu penilaian klinis tentang respon individu, keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan yang aktual dan potensial. Diagnosa keperawatan memberikan dasar untuk pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai tujuan diamana perawat bertanggung gugat “ (Wong,D.L, 2004 :331).
Menurut Wong, D.L (2004 :596 – 610) , diagnosa pada anak dengan leukemia adalah :
a.    Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh.
b.    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia.
c.    Resiko terhadap cedera : perdarahan yang berhubungan dengan penurunan jumlah trombosit.
d.    Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah
e.    Perubahan membran mukosa mulut : stomatitis yang berhubungan dengan efek samping agen kemoterapi.
f.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia, malaise, mual dan muntah, efek samping kemoterapi dan atau stomatitis.
g.    Nyeri yang berhubungan dengan efek fisiologis dari leukemia.
h.    Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian agens kemoterapi, radioterapi, imobilitas.
i.    Gangguan citra tubuh berhubungan dengan alopesia atau perubahan cepat pada penampilan.

C.    Rencana keperawatan
Rencana keperawatan merupakan serangkaian tindakan atau intervensi untuk mencapai tujuan pelaksanaan asuhan keperawatan. Intervensi keperawatan adalah preskripsi untuk perilaku spesifik yang diharapkan dari pasien dan atau tindakan yang harus dilakukan oleh perawat. Berdasarkan diagnosa yang ada maka dapat disusun rencana keperawatan sebagai berikut (Wong,D.L,2004 ).
1.    Resiko infeksi berhubungan dengan menurunnya sistem pertahanan tubuh.
Tujuan  :  Anak tidak mengalami gejala-gejala infeksi
Intervensi :
a.    Pantau suhu dengan teliti
Rasional : untuk mendeteksi kemungkinan infeksi
b.    Tempatkan anak dalam ruangan khusus
Rasional : untuk meminimalkan terpaparnya anak dari sumber infeksi
c.    Anjurkan semua pengunjung dan staff rumah sakit untuk menggunakan teknik mencuci tangan dengan baik
Rasional : untuk meminimalkan pajanan pada organisme infektif
d.    Gunakan teknik aseptik yang cermat untuk semua prosedur invasif
Rasional : untuk mencegah kontaminasi silang/menurunkan resiko infeksi
e.    Evaluasi keadaan anak terhadap tempat-tempat munculnya infeksi seperti tempat penusukan jarum, ulserasi mukosa, dan masalah gigi
Rasional : untuk intervensi dini penanganan infeksi
f.    Inspeksi membran mukosa mulut. Bersihkan mulut dengan baik
Rasional : rongga mulut adalah medium yang baik untuk pertumbuhan organisme
g.    Berikan periode istirahat tanpa gangguan
Rasional : menambah energi untuk penyembuhan dan regenerasi seluler
h.    Berikan diet lengkap nutrisi sesuai usia
Rasional : untuk mendukung pertahanan alami tubuh
i.    Berikan antibiotik sesuai ketentuan
Rasional : diberikan sebagai profilaktik atau mengobati infeksi khusus



2.    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat anemia
Tujuan : terjadi peningkatan toleransi aktifitas
Intervensi :
a.    Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam aktifitas sehari-hari
Rasional : menentukan derajat dan efek ketidakmampuan
b.    Berikan lingkungan tenang dan perlu istirahat tanpa gangguan
Rasional : menghemat energi untuk aktifitas dan regenerasi seluler atau penyambungan jaringan
c.    Kaji kemampuan untuk berpartisipasi pada aktifitas yang diinginkan atau dibutuhkan
Rasional : mengidentifikasi kebutuhan individual dan membantu pemilihan intervensi
d.    Berikan bantuan dalam aktifitas sehari-hari dan ambulasi
Rasional : memaksimalkan sediaan energi untuk tugas perawatan diri

3.    Risiko terhadap cedera/perdarahan yang berhubungan dengan penurunan jumlah trombosit
Tujuan : klien tidak menunjukkan bukti-bukti perdarahan
Intervensi :
a.    Gunakan semua tindakan untuk mencegah perdarahan khususnya pada daerah ekimosis
Rasional : karena perdarahan memperberat kondisi anak dengan adanya anemia
b.    Cegah ulserasi oral dan rektal
Rasional : karena kulit yang luka cenderung untuk berdarah
c.    Gunakan jarum yang kecil pada saat melakukan injeksi
Rasional : untuk mencegah perdarahan
d.    Menggunakan sikat gigi yang lunak dan lembut
Rasional : untuk mencegah perdarahan
e.    Laporkan setiap tanda-tanda perdarahan (tekanan darah menurun, denyut nadi cepat, dan pucat)
Rasional : untuk memberikan intervensi dini dalam mengatasi perdarahan
f.    Hindari obat-obat yang mengandung aspirin
Rasional : karena aspirin mempengaruhi fungsi trombosit
g.    Ajarkan orang tua dan anak yang lebih besar ntuk mengontrol perdarahan hidung
Rasional : untuk mencegah perdarahan.

4.    Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah
Tujuan     :      - Tidak terjadi kekurangan volume cair
-    Pasien tidak mengalami mual dan muntah
Intervensi :
a.    Berikan antiemetik awal sebelum dimulainya kemoterapi
Rasional : untuk mencegah mual dan muntah
b.    Berikan antiemetik secara teratur pada waktu dan program kemoterapi
Rasional : untuk mencegah episode berulang
c.    Kaji respon anak terhadap anti emetik
Rasional : karena tidak ada obat antiemetik yang secara umum berhasil
d.    Hindari memberikan makanan yang beraroma menyengat
Rasional : bau yang menyengat dapat menimbulkan mual dan muntah
e.    Anjurkan makan dalam porsi kecil tapi sering
Rasional : karena jumlah kecil biasanya ditoleransi dengan baik
f.    Berikan cairan intravena sesuai ketentuan
Rasional : untuk mempertahankan hidrasi

5.    Perubahan membran mukosa mulut : stomatitis yang berhubungan dengan efek samping agen kemoterapi.
Tujuan      : pasien tidak mengalami mukositis oral
Intervensi :
a.    Inspeksi mulut setiap hari untuk adanya ulkus oral
Rasional : untuk mendapatkan tindakan yang segera
b.    Hindari mengukur suhu oral
Rasional : untuk mencegah trauma
c.    Gunakan sikat gigi berbulu lembut, aplikator berujung kapas, atau jari yang dibalut kasa.
Rasional : untuk menghindari trauma
d.    Berikan pencucian mulut yang sering dengan cairan salin normal atau tanpa larutan bikarbonat
Rasional : untuk menuingkatkan penyembuhan
e.    Gunakan pelembab bibir
Rasional : untuk menjaga agar bibir tetap lembab dan mencegah pecah-pecah (fisura)
f.    Hindari penggunaan larutan lidokain pada anak kecil
Rasional : karena bila digunakan pada faring, dapat menekan refleks muntah yang mengakibatkan resiko aspirasi dan dapat menyebabkan kejang
g.    Berikan diet cair, lembut dan lunak
Rasional : agar makanan yang masuk dapat ditoleransi anak
h.    Inspeksi mulut setiap hari
Rasional : untuk mendeteksi kemungkinan infeksi
i.    Dorong masukan cairan dengan menggunakan sedotan
Rasional : untuk membantu melewati area nyeri
j.    Hindari penggunaa swab gliserin, hidrogen peroksida dan susu magnesia
Rasional : dapat mengiritasi jaringan yang luka dan dapat membusukkan gigi, memperlambat penyembuhan dengan memecah protein dan dapat mengeringkan mukosa
k.    Berikan obat-obat anti infeksi sesuai ketentuan
Rasional : untuk mencegah atau mengatasi mukositis
l.    Berikan analgetik
Rasional : untuk mengendalikan nyeri

6.    Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan anoreksia, malaise, mual dan muntah, efek samping kemoterapi dan atau stomatitis
Tujuan         :  Pasien mendapat nutrisi yang adekuat
Intervensi     :
a.    Dorong orang tua untuk tetap rileks pada saat anak makan
Rasional : jelaskan bahwa hilangnya nafsu makan adalah akibat langsung dari mual dan muntah serta kemoterapi
b.    Izinkan anak memakan semua makanan yang dapat ditoleransi, rencanakan unmtuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat
Rasional : untuk mempertahankan nutrisi yang optimal
c.    Berikan makanan yang disertai suplemen nutrisi gizi, seperti susu bubuk atau suplemen yang dijual bebas
Rasional : untuk memaksimalkan kualitas intake nutrisi
d.    Izinkan anak untuk terlibat dalam persiapan dan pemilihan makanan
Rasional : untuk mendorong agar anak mau makan
e.    Dorong masukan nutrisi dengan jumlah sedikit tapi sering
Rasional : karena jumlah yang kecil biasanya ditoleransi dengan baik
f.    Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori kaya nutrient
Rasional : kebutuhan jaringan metabolik ditingkatkan begitu juga cairan untuk menghilangkan produk sisa suplemen dapat memainkan peranan penting dalam mempertahankan masukan kalori dan protein yang adekuat
g.    Timbang BB, ukur TB dan ketebalan lipatan kulit trisep
Rasional : membantu dalam mengidentifikasi malnutrisi protein kalori, khususnya bila BB dan pengukuran antropometri kurang dari normal

7.    Nyeri yang berhubungan dengan efek fisiologis dari leukemia
Tujuan     : pasien tidak mengalami nyeri atau nyeri menurun sampai tingkat yang dapat diterima anak.
Intervensi :
a.    Mengkaji tingkat nyeri dengan skala 0 sampai 5
Rasional : informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan atau keefektifan intervensi
b.    Jika mungkin, gunakan prosedur-prosedur (misal pemantauan suhu non invasif, alat akses vena
Rasional : untuk meminimalkan rasa tidak aman
c.    Evaluasi efektifitas penghilang nyeri dengan derajat kesadaran dan sedasi
Rasional : untuk menentukan kebutuhan perubahan dosis. Waktu pemberian atau obat
d.    Lakukan teknik pengurangan nyeri non farmakologis yang tepat
Rasional : sebagai analgetik tambahan
e.    Berikan obat-obat anti nyeri secara teratur
Rasional : untuk mencegah kambuhnya nyeri

8.    Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian agens kemoterapi, radioterapi, imobilitas
Tujuan     : pasien mempertahankan integritas kulit
Intervensi    :
a.    Berikan perawatan kulit yang cemat, terutama di dalam mulut dan daerah perianal
Rasional : karena area ini cenderung mengalami ulserasi
b.    Ubah posisi dengan sering
Rasional : untuk merangsang sirkulasi dan mencegah tekanan pada kulit
c.    Mandikan dengan air hangat dan sabun ringan
Rasional : mempertahankan kebersihan tanpa mengiritasi kulit
d.    Kaji kulit yang kering terhadap efek samping terapi kanker
Rasional : efek kemerahan atau kulit kering dan pruritus, ulserasi dapat terjadi dalam area radiasi pada beberapa agen kemoterapi
e.    Anjurkan pasien untuk tidak menggaruk dan menepuk kulit yang kering
Rasional : membantu mencegah friksi atau trauma kulit
f.    Dorong masukan kalori protein yang adekuat
Rasional : untuk mencegah keseimbangan nitrogen yang negatif
g.    Pilih pakaian yang longgar dan lembut diatas area yang teradiasi
Rasional : untuk meminimalkan iritasi tambahan

9.    Gangguan citra tubuh berhubungan dengan alopesia atau perubahan cepat pada penampilan
Tujuan      : pasien atau keluarga menunjukkan perilaku koping positif
Intervensi :
a.    Dorong anak untuk memilih wig (anak perempuan) yang serupa gaya dan warna rambut anak sebelum rambut mulai rontok
Rasional : untuk membantu mengembangkan penyesuaian rambut terhadap kerontokan rambut
b.    Berikan penutup kepala yang adekuat selama pemajanan pada sinar matahari, angin atau dingin
Rasional : karena hilangnya perlindungan rambut
c.    Anjurkan untuk menjaga agar rambut yang tipis itu tetap bersih, pendek dan halus
Rasional : untuk menyamarkan kebotakan parsial
d.    Jelaskan bahwa rambut mulai tumbuh dalam 3 hingga 6 bulan dan mungkin warna atau teksturnya agak berbeda
Rasional : untuk menyiapkan anak dan keluarga terhadap perubahan penampilan rambut baru
e.    Dorong hygiene, berdan, dan alat alat yang sesuai dengan jenis kelamin , misalnya wig, skarf, topi, tata rias, dan pakaian yang menarik
Rasional : untuk meningkatkan penampilan

10.    Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak yang menderita leukemia
Tujuan     : pasien atau keluarga menunjukkan pengetahuan tentang prosedur diagnostik atau terapi.
Intervensi :
a.    Jelaskan alasan setiap prosedur yang akan dilakukan pda anak
Rasional : untuk meminimalkan kekhawatiran yang tidak perlu
b.    Jadwalkan waktu agar keluarga dapat berkumpul tanpa gangguan dari staff
Rasional : untuk mendorong komunikasi dan ekspresi perasaan
c.    Bantu keluarga merencanakan masa depan, khususnya dalam membantu anak menjalani kehidupan yang normal.
Rasional : untuk meningkatkan perkembangan anak yang optimal
d.    Dorong keluarga untuk mengespresikan perasaannya mengenai kehidupan anak sebelum diagnosa dan prospek anak untuk bertahan hidup
Rasional : memberikan kesempatan pada keluarga untuk menghadapi rasa takut secara realistis
e.    Diskusikan bersama keluarga bagaimana mereka memberitahu anak tentang hasil tindakan dan kebutuhan terhadap pengobatan dan kemungkinan terapi tambahan
Rasional : untuk mempertahankan komunikasi yang terbuka dan jujur
f.    Hindari untuk menjelaskan hal-hal yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada
Rasional : untuk mencegah bertambahnya rasa khawatiran keluarga

11.    Antisipasi berduka berhubungan dengan perasaan potensial kehilangan anak
Tujuan      : pasien atau keluarga menerima dan mengatasi kemungkinan kematian  ana        anak
Intervensi :
a.    Kaji tahapan berduka terhadap anak dan keluarga
Rasional : pengetahuan tentang proses berduka memperkuat normalitas perasaan atau reaksi terhadap apa yang dialami dan dapat membantu pasien dan keluarga lebih efektif menghadapi kondisinya
b.    Berikan kontak yang konsisten pada keluarga
Rasional : untuk menetapkan hubungan saling percaya yang mendorong komunikasi
c.    Bantu keluarga merencanakan perawatan anak, terutama pada tahap terminal
Rasional : untuk meyakinkan bahwa harapan mereka diimplementasikan
d.    Fasilitasi anak untuk mengespresikan perasaannya melalui bermain
Rasional : memperkuat normalitas perasaan atau reaksi terhadap apa yang dialami.

D.    Implementasi
Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan dari perencanaan keperawatan yang telah dibuat untuk mencapai hasil yang efektif. Dalam pelaksanaan implementasi keperawatan, penguasaan keterampilan dan pengetahuan harus dimiliki oleh setiap perawat sehingga pelayanan yang diberikan baik mutunya. Dengan demikian tujuan dari rencana yang telah ditentukan dapat tercapai (Wong. D.L.2004:hal.331).

E.    Evaluasi
Evaluasi adalah suatu penilaian terhadap keberhasilan rencana keperawatan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan klien. Menurut Wong. D.L, (2004 hal 596-610) hasil yang diharapkan pada klien dengan leukemia adalah :
a.    Anak tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
b.    Berpartisipasi dalam aktifitas sehari-sehari sesuai tingkat kemampuan, adanya laporan peningkatan toleransi aktifitas.
c.    Anak tidak menunjukkan bukti-bukti perdarahan.
d.    Anak menyerap makanan dan cairan, anak tidak mengalami mual dan muntah
e.    Membran mukosa tetap utuh, ulkus menunjukkan tidak adanya rasa tidak nyaman
f.    Masukan nutrisi adekuat
g.    Anak beristirahat dengan tenang, tidak melaporkan dan atau menunjukkan bukti bukti ketidaknyamanan, tidak mengeluhkan perasaan tidak nyaman.
h.    Kulit tetap bersih dan utuh
i.    Anak mengungkapkan masalah yang berkaitan dengan kerontokan rambut, anak membantu menentukan metode untuk mengurangi efek kerontokan rambut dan menerapkan metode ini dan anak tampak bersih, rapi, dan berpakaian menarik.
j.    Anak dan keluarga menunjukkan pemahaman tentang prosedur, keluarga
menunjukkan pengetahuan tentang penyakit anak dan tindakannya. Keluarga mengekspresikan perasaan serta kekhawatirannya dan meluangkan waktu bersama anak.
k.    Keluarga tetap terbuka untuk konseling dan kontak keperawatan, keluarga dan anak mendiskusikan rasa takut, kekhawatiran, kebutuhan dan keinginan mereka pada tahap terminal, pasien dan keluarga mendapat dukungan yang adekuat.




DAFTAR PUSTAKA


Carpenito, Lynda Juall. (1999). Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Edisi 2. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarata.

Wong. D. L. ( 2004 ). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Doenges, Marilynn E. ( 2000 ). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3. (terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.

    Suriadi & Rita Yuliani. ( 2001 ). Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah. Volume 2, (terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
   
Bets, cecily L. ( 2002 ). Perawatan Medikal Bedah. Volume I. (terjemahan). Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran. Bandung.

Mansjoer, Arif & Suprohaita. (2000). Kapita Slekta Kedokteran Jilid II. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius. Jakarta.

Matondang, Corry S. (2000) Diagnosis Fisis Pada Anak. Edisi ke 2, PT. Sagung Seto. Jakarta.



ASKEP HEPATITIS

BAGIAN      : KEPERAWATAN

PROGRAM : S1 kep

STIKES MEGA REZKY MAKASSAR         

LaporanPendahuluan

02    Januari 2012

HEPATITIS








SRIANTO HARDIAWAN
103145105074





             CI   LAHAN                         CI   INSTITUSI                        CI   INSTITUSI





  (                                            )        ( Ns. Marhama, S.Kep)                    (                               )



PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

STIKES MEGA REZKY

MAKASSAR

2012



 

BAB I
TINJAUAN TEORI

1.    Defenisi
Hepatitis merupakan peradangan dari parenchyma hati yang akut dan menyeluruh yang dapat diakibatkan karena virus, bakteri, toksin, obat atau alkohol yang berlebihan (Asuhan Keperawatan, Nugroho T, 2011).
Hepatitis virus merupakan penyakit infeksi yang penyebarannya luas dalam tubuh, walaupun efek yang terjadi pada hati. Telah ditemukan lima kategori virus yang menjadi agen penyebab:
1.    Virus Hepatitis A (HAV)
2.    Virus Hepatitis B (HBV)
3.    Virus Hepatitis C (HCV)
4.    Virus Hepatitis D (HDV)
5.    Virus Hepatitis E (HEV)

2.    Etiologi
a.    Virus (penyebab terbanyak)
b.    Bakteri (Salmonella typi)
c.    Obat-obatan
d.    Racun (hepatoksik)
e.    Alkohol

3.    Patofisiologi


Narasi
Hepatitis atau peradangan pada jaringan hati disebabkan oleh beberapa hal yaitu:
•    Konsumsi alkohol di mana alkohol ini menyebabkan terjadinya penimbunan lemak dalam jumlah banyak sehingga hati membesar, rapuh dan mengalami gangguan fungsional dan terjadi kerusakan hepatosite.
•    Virus beberapa virus A, B, C, D, E di mana virus ini menyerang langsung pada sel hepar dan terjadi kerusakan hepatosite. Setelah itu virus terus mengadakan replikasi sampai menyebabkan nekrosis jaringan.
•    Obat-obatan yang bersifat toksik di mana penggunaannya dalam jangka waktu yang lama akan langsung menyerang ke hati dan menyebabkan kerusakan hepatosite.
•    Stress. Kondisi ini menyebabkan adrenalin meningkat dari peningkatan adrenalin ini menyebabkan  sistem imun menurun. Apabila sistem imun sudah menurun maka kemungkinan untuk masuknya virus penyakit sangat besar salah satunya penyakit hepatitis.
Dari beberapa penyebab di atas sampai terjadi kerusakan hepatosite, keadaan lanjut akan terjadi peradangan hati di mana hati teraba membesar tepinya yang lancip menjadi tumpul. Setelah terjadi peradangan hati ada dua hal yang terjadi yaitu: perubahan aliran darah dan perangsangan kemoreseptor hipotalamus.
-    Perubahan aliran darah: terjadinya peradangan pada hati, menyebabkan hati mengalami pembengkakan, dan pembengkakan ini menyebabkan pembuluh darah yang menuju ke hati tertekan sehingga terjadi vasokontriksi sehingga aliran darah ke hati macet/menjadi lambat. Ini akan menimbulkan nekrosis hati. Dari keadaan ini muncul diagnosa keperawatan “resiko tinggi terhadap infeksi”.
Nekrosis hati juga menyebabkan metabolisme bilirubin menurun artinya terjadi peningkatan dekstruksi dan SDM, kadar bilirubin tak terkonyugasi dalam darah meningkat sehingga terjadi hiperbilirubinemia, pembentukan bilirubin yang berlebihan ini merupakan mekanisme umum penyebab terjadinya ikterus (salah satu dari 4 mekanisme umum penyebab).
-    Terjadinya peradangan hati akan merangsang kemoreseption hipotalamus sehingga set point berubah dan kompensasi tubuh akan meningkatkan panas dan reaksi ini timbullah diagnosa keperawatan “hipertermi”. Dari keadaan hipertermi ini timbul gejala mual muntah (prodromal) yang berlanjut mengakibatkan anoreksia sehingga intake menurun dan muncul diagnosa keperawatan Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan. Apabila nutrisi terganggu otomatis terjadi kelemahan dan muncul diagnosa sehubungan dengan intoleransi aktivitas.


4.    Manifestasi Klinis
a.    Stadium Pre Ikterik
1)    Stadium ini biasanya berlangsung 4-7 hari.
2)    Sakit kepala, badan lemah.
3)    Rasa mual, muntah, dan anoreksia.
4)    Febris – kadang-kadang tinggi.
5)    Nyeri perut kanan atas.
6)    Urin menjadi coklat/the.
b.    Stadium Ikterik
1)    Stadium ini berlangsung 3-6 minggu.
2)    Ikterik mula-mula pada sclera/mata.
3)    Gangguan pada pencernaan masih.
4)    Hepatomegali/ dan nyeri tekan.
5)    Feces warna kuning.
c.    Stadium Pos Ikterik
1)    Ikterik merada.
2)    Peaces dan urin normal.
3)    Gangguan pencernaan menghilang (mual-muntah).
4)    Nafsu makan bertambah/baik.
5)    Badan merasa enak.
6)    Pasien sembuh-pulang

5.    Komplikasi
Tidak semua pasien dengan hepatitis virus akan mengalami perjalanan penyakit yang lengkap. Sejumlah kecil pasien (kurang dari 1 %) memperlihatkan kemunduran klinis yang cepat setelah awitan ikterus akibat hepatitis fulminan dan nekrosis hati massif.
a.    Hepatitis fulminan
Dicirikan oleh tanda dan gejala gagal hati akut, penciukan hati, kadar bilirubin serum meningkat cepat, pemajangan waktu protrombin yang sangat nyata dan koma hepatic.

b.    Hepatitis kronik persisten
Komplikasi hepatitis virus yang paling sering dijumpai di mana perjalanan penyakit memanjang hingga 4 – 8 bulan, namun pasien akan sembuh kembali.
c.    Hepatitis virus akut
Pasien mengalami kekambuhan setelah serangan awal yang biasanya dihubungkan dengan minum alkohol atau aktivitas fisik yang berlebihan.
d.    Hepatitis agresif atau kronik aktif
Di mana terjadi kerusakan hati seperti digerogoti (piecemeal) dan perkembangan sirosis.
e.    Karsinoma hepatoseluler
Merupakan komplikasi lanjut hepatitis yang cukup bermakna yang disebabkan oleh dua faktor yang berkaitan dengan patogenesisnya yaitu infeksi HBV kronik dan sinosis terkait.

6.    Pemeriksaan Penunjang
a.    Tes fungsi hati : Abnormal (4-10 kali dari normal). Catatan : Merupakan batasan nilai untuk membedakan hepatitis virus dari non virus.
b.    AST (SGOT)/ALT(SGPT) : Awalnya meningkat. Dapat meningkat 1 – 2 minggu sebelum ikterik kemudian tampak menurun.
c.    Darah lengkap : SDM menurun sehubungan dengan penurunan hidup SDM (gangguan enzim hati) atau mengakibatkan perdarahan.
d.    Leukopenia : Trombositopenia mungkin ada (splenomegali).
e.    Diferensial darah lengkap : Leukositosis, monositosis, limfosit atipikal, dan sel plasma.
f.    Alkali fosfatase : Agak meningkat (kecuali ada kolestasis berat).
g.    Faeces : Warna tanah liat, steatorea (penurunan fungsi hati).
h.    Albumin serum : Menurun.
i.    Gula darah : Hiperglikemia transien/hipoglikemia (gangguan fungsi hati).
j.    Anti HAV IgM : Positif pada tipe A.
k.    HbsAG : Dapat positif (tipe B) atau negatif (tipe A). catatan : Merupakan diagnostik sebelum terjadi gejala klinik.
l.    Masa protrombin : Mungkin memanjang (disfungsi hati).
m.    Bilirubin serum : Diatas 2,5 mg/100 ml (bila diatas 200 mg/ml, prognosis buruk mungkin berhubungan dengan peningkatan nekrosis seluler).
n.    Biopsi hati : Menunjukkan diagnosis dan luasnya nekrosis.
o.    Skan hati : Membantu dalam perkiraan beratnya kerusakan parenkim.
p.    Urinalisa : Peninggian kadar bilirubin; protein/hematuri dapat terjadi.

7.    Penatalaksanaan
a.     Tirah baring selama fase akut dengan diet yang cukup bergizi merupakan anjuran yang lazim.
b.    Diet TKTP, pemberian makanan intravena mungkin perlu selama fase akut bila pasien terus-menerus muntah.
c.    Aktivitas fisik biasanya perlu dibatasi hingga gejala-gejala mereda dan tes fungsi hati kembali normal.
d.    Terapi sesuai instruksi dokter.
e.    Jaga kebersihan perorangan dan lingkungan.
f.    Alat-alat makan disterilkan.
g.    Alat-alat tenun sebelum dicuci direndam dahulu dengan antiseptik

8.    Pencegahan
 Karena terbatasnya pengobatan hepatitis, maka penekanan lebih diarahkan pada pencegahan melalui imunisasi. Kini tersedia imunisasi pasif untuk HVA, dan imunisasi aktif dan pasif untuk HBV. Anjuran untuk praktek imunisasi sebelum dan sesudah paparan telah diterbitkan oleh Centers for Disease Control (1990).
Petugas yang terlibat dalam kontak resiko tinggi, misalnya pada hemodialisis, transfusi tukar, dan terapi parenteral, perlu sangat berhati-hati dalam menangani peralatan dan menghindari tusukan jarum.
Langkah-langkah dalam masyarakat adalah penting dalam pencegahan hepatitis, termasuk penyediaan makanan dan air bersih dan aman, serta sistem pembuangan sampah yang efektif. Higiene umum, mencuci tangan dan pembuangan kemih dan faeces dari pasien yang terinfeksi secara aman, penting untuk diperhatikan. Pemakaian kateter, jarum suntik dan spuit sekali pakai, akan menghilangkan sumber infeksi yang penting. Semua donor darah perlu disaring terhadap HAV, HBV, dan HCV sebelum diterima menjadi panel donor.


Askep Hemoroid

BAB I
TINJAUAN TEORI

A.    DEFENISI

  Hemoroid adalah pelebaran pembuluh darah vena hemrroidalis dengan penonjolan membran mukosa yang melapisi daerah anus dan rektum. ( Nugroho T 2011).
Hemoroid merupakan pelebaran dan inflamasi pembuluh darah vena di daerah anus yang berasal dari plexus hemorrhoidalis. (Sudoyo dkk 2009)
Hemoroid adalah pelebaran varises satu segmen atau lebih vena-vena hemoroidalis (bacon). Patologi keadaan ini dapat bermacam-macam, yaitu trombosis, ruptur, radang, ulserasi, dan nekrosis (Mansjoer, dkk, 2000).
Hemoroid adalah pelebaran vena di dalam fleksus hemoroidalis yang tidak merupakan keadaan patologik, hanya apabila haemoroid ini menyebabkan keluhan atau penyulit, diperlukan tindakan (Brunner & Suddarth 2001)

B.    ETIOLOGI
a.    Konstipasi atau diare
b.    Sering mengejan
c.    Kongesti pelvis pada kehamilan
d.    Pembesaran prostat
e.    Fibroma uteri
f.    Tumor rektum
g.    Penyakit hati kronik yang disertai hipertensi portal

Yang menjadi faktor predisposisi adalah herediter, anatomi, makanan pekerjaan, psikis, dan senilitas. Sedangkan sebagai faktor presipitasi adalah faktor mekanis (kelainan sirkulasi parsial dan penigkatan tekanan intrabdominal), fisiologis dan radang.     

C.    PATOFISIOLOGI
Rektum biasanya kosong sampai menjelang defekasi. Defekasi dikendalikan oleh sfingter ani eksterna dan interna. Pada waktu rektum yang mengalami distensi berkontraksi, otot levator ani berelaksasi, sehingga menyebabkan sudut dan anulus anorektal menghilang. Otot-otot sfingter interna dan eksterna berelaksasi pada waktu anus tertarik ke atas melebihi tinggi feses. Defekasi dipercepat dengan adanya peningkatan tekanan intra abdomen yang terjadi akibat kontraksi voluntar otot-otot dada dengan glotis di tutup dan kontraksi secara terus-menerus dari otot-otot abdomen. Defekasi dapat dihambat oleh kontraksi voluntar otot-otot sfingter eksterna dan levator ani. Dinding rektum secara bertahap akan relaks dan keinginan untuk berdefekasi menghilang.
Kegagalan pengosongan rektum pada saat terjadinya peristaltik massa merupakan penyebab umum dari konstipasi. Bila defekasi tidak sempurna, rektum relaksasi dan hasrat untuk defekasi hilang. Air tetap terus diabsorpsi dari massa feses, menyebabkan feses menjadi keras, sehingga defekasi selanjutnya lebih sukar. Akibat tekanan feses berlebihan menyebabkan kongesti vena hemoroidalis interna dan eksterna yang akhirnya bisa menyebabkan terjadinya hemoroid. Selain   itu,   hemoroid  dapat   juga diakibatkan oleh adanya anastomosis  antara vena hemoroidalis superior, media dan interna, sehingga peningkatan tekanan portal dapat mengakibatkan aliran balik ke dalam vena-vena ini dan mengakibatkan terjadinya hemoroid.

D.    MANEFESTASI KLINIK
Tanda utama biasanya adalah perdarahan. Darah yang keluar berwarna merah segar, tidak bercampur dengan feses, dan jumlahnya bervariasi. Bila hemoroid bertambah besar maka dapat terjadi prolaps. Pada awalnya biasanya dapat tereduksi spontan. sampai pada suatu keadaan di mana tidak dapat dimasukkkan. Kotoran dipakaian dalam menjadi tanda hemoroid yang m engalami prolaps permanen, kulit di daerah perianal akan mengalami  iritasi. Nyeri akan terjadi bila timbul trombosis luas dengan edema dengan peradangan.
Anamnesis harus dikaitkan dengan faktor obstipasi, defekasi yang keras, yang membutuhkan tekanan intraabdominal tinggi (mengejan), juga sering pasien harus duduk berjam-jam di WC, dan dapat disertai rasa nyeri yang merupakan gejala radang.

a.    Haemoroid interna.

1.)    Derajat satu.
Tidak menonjol melalui anus dan hanya dapat ditemukan dengan protoskopi, lesi biasanya terletak pada posterior kanan dan kiri dan anterior kanan, mengikuti penyebaran cabang-cabang vena hemoridalis superior dan tampak sebagai pembengkakan globular kemerahan.

2.)    Derajat dua.
Dapat mengalami prolapsus melalui anus saat defekasi haemoroid ini dapat mengecil secara spontan atau dapat direduksi (dikembalikan ke dalam) secara manual.


3.)    Derajat tiga.
Mengalami prolapsus secara permanen (keadaan dimana varises yang keluar tidak dapat masuk kembali) dengan sendirinya tapi harus didorong. Dalam hal ini mungkin saja varises keluar dan harus didorong kembali tanpa perdarahan.

4.)    Derajat IV
Akan timbul keadaan akut, dimana varises yang keluar pada saat defekasi tidak dapat didorong masuk kembali hal ini akan menimbulkan rasa sakit. Biasanya ini terdapat trombus yang diikuti infeksi dan kadang-kadang timbul peningkatan rektum.

b.    Haemoroid eksterna.

1.)    Akut.
Pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan sebenarnya merupakan haematoma. Bentuk ini sering sangat nyeri dan gatal karena ujung-ujung saraf pada kulit merupakan reseptor nyeri. Kadang-kadang perlu membuang thrombus dengan anastesi local atau dapat diobati dengan “kompres duduk” panas dan analgetik.

2.)    Kronik atau skintag.
Berupa satu atau lebih lipatan kulit anus yang terdiri dari penyambung dan sedikit pembuluh darah.

Hemoroid eksterna dapat dilihat dengan inspeksi, apalagi bila telah terjadi trombosis bila hemoroid interna mengalami prolaps, maka tonjolan yang ditutupi epitel penghasil musin akan dapat dilihat pada satu atau beberapa kuadran.
Selanjutnya secara sistematik dilakukan pemeriksaan dalam rektal secara digital dan dengan anoskopi. Pada pemeriksaan rektal secara digital mungkin tidak ditemukan apa-apa bila masih dalam stadium awal. Pemeriksaan anoskopi dilakukan untuk melihat hemoroid interna yang tidak mengalami penonjolan.
Pada pemeriksaan  kita tidak boleh mengabaikan pemeriksaan umum karena keadaan ini dapat disebabkan oleh penyakit lain seperti sindrom hipertensi portal.          

E.    KOMPLIKASI
Komplikasi penyakit ini adalah perdarahan hebat, abses, fistula, para anal, dan inkarserasi. Untuk hemoroid eksterna, pengobatannya selalu operatif. Tergantung keadaan, dapat dilakukan eksisi atau insisi trombus serta pengeluaran trombus. 
                                                                                              
F.    PEMERIKSAAN PENUNJANG

1.    Pemeriksaan colok dubur.
Diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma rectum. Pada haemoroid interna tidak dapat diraba sebab tekanan vena di dalamnya tidak cukup tinggi dan biasanya tidak nyeri.

2.    Anoskop.
Diperlukan untuk melihat hemoroid interna yang tidak menonjol keluar.

3.    Proktosigmoidoskopi.
Untuk memastikan bahwa keluhan bukan disebabkan oleh proses radang atau proses keganasan di tingkat yang lebih tinggi.

4.    Diagnosis
-    Darah di anus.
-    Prolaps.
-    Perasaan tak nyaman di anus (pruritus anus).
-    Pengeluaran lendir
-    Anemia sekunder.
-    Tampak kelainan khas pada saat inspeksi
-    Gambaran khas pada anoskopi/rektoskopi.

5.    Diagnosis Banding
6.    Perdarahan.
7.    Trombosis.
8.    Strangulasi.
Haemoroid yang mengalami strangulasi adalah haemoroid yang mengalami prolapsus dimana darah dihalangi oleh spingter ani.
9.    Pengobatan
-    Pembedahan pada derajat lanjut.
-    Kompres duduk atau bentuk pemanasan basah lain, dan penggunaan suppositoria.
-    Eksisi bedah dapat dilakukan bila perdarahan menetap, terjadi prolapsus, atau pruritus dan nyeri anus yang tidak dapat diatasi.

G.    PENATALAKSANAAN

1.    Skeleroterapi
Skeleroterapi adalah penyuntikan larutan kimia yang merangsang, misalnya 5% fenol dalam minyak nabati. Penyuntikan diberikan ke submukosa di dalam jaringan areolar yang longgar di bawah hemoroid interna dengan tujuan menimbulkan peradangan steril yang kemudian menjadi fibrotik dan meninggalkan parut. Penyuntikan dilakukan di sebelah atas dan garis mukokutan dengan jarum yang panjang melalui anuskop.

2.    Ligasi Dengan Gelang Karet
Hernoroid yang besar atau yang mengalami prolaps dapat ditangani dengan ligasi gelang karet menurut Barron. Dengan bantuan anuskop, mukosa di atas hemoroid yang menonjol dijepit dan ditarik atau dihisap kedalarn tabung ligator khusus. Gelang karet didorong dan ligaton dan ditempatkan secara rapat di sekeliling mukosa pleksus hemoroidalis tersebut. Nekrosis karena iskemia terjadi dalam beberapa hari. Mukosa bersama karet akan lepas sendirii. Fibrosis dan parut akan terjadi pada pangkal hemoroid tersebut.

3.    Bedah Beku
Hemoroid dapat pula dibekukan dengan pendinginan pada suhu yang rendah sekali. Bedah beku ini tidak dipakai secara luas oleh karena mukosa yang nekrotik sukar ditentukan luasnya.

4.    Hemoroidektomi
Terapi bedah dipilih untuk penderita yang mengalami keluhan menahun dan pada penderita hemoroid derajat III atau IV. Terapi bedah juga dapat dilakukan  pada penderita dengan perdarahan berulang dan anemia yang tidak sembuh dengan cara terapi lainnya yang lebih sederhana.

5.    Stapling Hemorrhoidectomy
Tindakan operasi ini adalah tindakan yang amat minimal invasi, Stapler dimasukan kedalam anus yang sebelumnya dimasukkan alat dilator anus. Kemudian dilakukan penjahitan pada tempat hemoroid dan stapler dimasukkan sambil jahitan tadi diikat kencang. Stapler di tarik untuk memberi tempat ikatan betul-betul kencang. Setelah itu stapler dimasukkan maksimal, kemudian dilakukan stapling/pemotongan. Setelah stapling selesai, evaluasi pada staper line, jika masih ada perdarahan lakukan penjahitan. Tapi jika dilihat perdarahan tidak ada, operasi dinyatakan selesai. ( Syamsuhidajat, 1997)

6.    Dampak Hemoroid Terhadap Kebutuhan Dasar Manusia
a.    Kebutuhan rasa nyaman
Adanya dilatasi pada vena hemoroidalis akan merangsang serabut saraf mengeluarkan zat neurotransmiter (histamin, bradikinin, prostaglandin dan serotinin) reseptor nyeri menjadi aktif, yang akan diantarkan ke thalamus maka nyeri akan dirasakan. Sampai di kortek serebri nyeri akan diinterpretasikan  sehingga akan timbul nyeri akut.
b.    Kebutuhan istirahat tidur
Adanya dilatasi pada vena hemoroidalis akan merangsang saraf simpatis untuk mengaktivasi Reticulary Activity System (RAS), Rapid Eye Movement  menurun sehingga klien terjaga.
c.    Kebutuhan eliminasi
Sakit pada waktu BAB akan menjadi stressor bagi klien sehingga klien takut untuk BAB, keadaan ini akan mengakibatkan pola eliminasi BAB terganggu.
d.    Risiko infeksi
Terdapatnya dilatasi pada vena hemoroidalis juga merupakan media yang baik untuk invasi dan berkembangbiaknya mikroorganisme, maka klien dengan hemoroid mempunyai  risiko akan terjadinya infeksi pada jaringan tersebut.
e.    Intoleransi aktivitas
Penurunan Hb pada hemoroid yang mengalami perdarahan akan menyebabkan transportasi O2 dan nutrisi ke jaringan berkurang sehingga pembentukan ATP pada sel akan menurun, terjadi penurunan energi tubuh dan kelemahan fisik, maka akan menimbulkan intoleransi aktivitas.
f.    Cemas
Keterbatasan kognitif mengenai penyakit merupakan stressor bagi klien. Ketidakmampuan menanggulangi stressor dengan baik akan menimbulkan kecemasan bagi klien.

g.    Kebutuhan nutrisi
Adanya mual dan muntah karena perangsangan vomitting center akibat adanya hipoksia jaringan menyebabkan anoreksia pada klien yang mempengaruhi  intake nutrisi jadi menurun, maka akan terjadi intake nutrisi kurang dari kebutuhan.
h.    Kurang volume cairan
Hipervasodilatasi vaskuler pada hemoroid dapat menimbulkan perdarahan akibatnya isi darah menurun sehingga volume cairan berkurang.
i.    Defisit perawatan diri
Hemoglobin yang rendah akibat perdarahan menimbulkan transpor O2 dan nutrisi mengalami penurunan pembentukan energi dalam tubuh menurun, keadaan fisik melemah maka dapat menimbulkan kelelahan yang akan menimbulkan malas untuk  merawat dirinya maka terjadi defisit perawatan diri.
j.    Perubahan perfusi jaringan
Perdarahan pada hemoroid yang tidak ditangani akan menimbulkan penurunan hemoglobin atau anemia yang mengakibatkan transpor O2 dan nutrisi ke jaringan berkurang, maka akan terjadi perubahan perfusi jaringan.

H.    PENCEGAHAN
Yang paling banyak dalam mencegah hemoroid itu mempertahankan tinja tetap lunak sehingga mudah ke luar, dimana hal ini menurunkan tekanan dan pengedanan dan mengosongkan usus sesegera mungkin setelah perasaan mau ke belakang timbul. Lat  ihan olahraga seperti berjalan, dan peningkatan konsumsi serat diet juga membantu mengurangi konstipasi dan mengedan.


A.    PENGKAJIAN KEPERAWATAN

1.    Biodata

1)    Identitas klien meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, kedudukan klien dalam keluarga, tanggal masuk rumah sakit, tanggal pengkajian, diagnosa medis, nomor rekam medik, alamat.
2)    Identitas orang tua atau penanggung jawab meliputi: nama, umur, pendidikan, pekerjaan, agama, alamat.

2.    Keluhan utama
Klien biasanya datang dengan keluhan nyeri pada waktu Buang Air Besar (BAB) disertai dengan keluarnya daging kecil di anus dan disertai darah segar.  Darah dapat menetes  keluar dari anus  beberapa saat sesudah  BAB. Pengeluaran lendir dialami  oleh beberapa klien yang menderita   hemoroid  yang  prolapsus.

3.    Riwayat Penyakit Sekarang
Dikembangkan dari keluhan utama dengan memakai rumus PQRST yaitu:
P : Paliatif, yaitu apa yang memperberat keluhan yang dialami  klien?. Pada umumnya klien dibawa ke rumah sakit karena nyeri pada waktu BAB, duduk atau berjalan.
Q : Quality, yaitu bagaimana keluhan tersebut dirasakan oleh klien (panas, pedih)?. Pada klien dengan hemoroid karakteristik nyeri tajam dan berdenyut, terus menerus atau berjangka waktu.
R : Region, yaitu di manakah gangguan tersebut dirasakan?. Apakah gangguan tersebut menyebar ke daerah lain? .Nyeri pada anus adalah yang paling khas dari penyakit hemoroid.
S : Scale, yaitu seberapa berat keluhan tersebut dirasakan?Bagaimana keluhan tersebut mempengaruhi kemampuan fungsi dirinya?.
T :  Time, yaitu berapa lama keluhan itu dirasakan?Apakah ada perbedaan intensitas keluhan misal : menghebat pada malam  hari?
Nyeri dirasakan pada waktu BAB, berjalan atau ketika duduk.

4.    Riwayat kesehatan dahulu
Dikaji apakah sebelumnya pernah mengalami gangguan seperti susah BAB. Biasanya klien BAB tidak teratur. Kaji juga penggunaan obat-obatan dan apakah pernah dirawat di rumah sakit?.
5.    Riwayat kesehatan keluarga
Meliputi penyakit yang pernah masih diderita anggota keluarga, penyakit menular, keturunan, jika ada penyakit yang diturunkan buat genogramnya.

6.    Data Aspek biologis
1)    Aktivitas sehari-hari
a)    Pola nutrisi  : kebiasaan makan sehari-hari, jam makan, frekuensi makan, porsi dan jenis makanan yang disukai /tidak disukai, diet, alergi terhadap makanan. Cairan: jenis minuman, frekuensi, kehilangan cairan yang berlebihan : vomitus, drainage berlebihan. Asupan makanan : minum, infus.
b)    Pola eliminasi : kebiasaan BAB, BAK, frekuensi, warna, bau, konsistensi, jumlah.
c)    Pola istirahat tidur : kebiasaan tidur sehari-hari, jam tidur, lama tidur, sering bangun waktu tidur, masalah yang berhubungan dengan tidur.
d)    Personal hygiene : kebiasaan mandi, cuci rambut, ganti pakaian, unting kuku, gosok gigi.

2)    Penampilan umum
Klien dengan hemoroid biasanya tampak lemah.
3)    Pemeriksaan fisik
Melakukan pemeriksaan fisik kepada klien untuk menentukan masalah kesehatan, yang meliputi  review of system yaitu :
a)    Sistem Respirasi
Pola napas yang cepat dipengaruhi oleh adanya rasa nyeri. Dapat ditemukan perubahan frekuensi pernapasan akibat adanya nyeri.
b)    Sistem Kardiovaskuler
Kaji tekanan darah /mmHg, nadi reguler/ireguler, palpitasi atau tidak, peningkatan vena jugularis atau tidak, kemungkinan konjungtiva pucat.
c)    Sistem Gastrointestinal
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan adanya benjolan pada anus, pengerasan feses, ulkus yang menyebabkan perforasi pada mukosa. Kemungkinan ditemukan darah segar keluar dari anus. Hal ini dapat terlihat pada waktu BAB, kertas toilet,  feses atau   air dalam toilet. Darah dapat menetes  keluar dari anus  beberapa saat sesudah  defekasi. Perlu dikaji frekuensi bising usus berapa kali/menit, keadaan mulut bersih atau tidak, BAB berapa kali/hari.
d)    Sistem Muskuloskeletal
Kemungkinan dijumpai otot lemah, kelelahan atau keletihan, penurunan toleransi terhadap aktivitas. Kaji adakah nyeri otot atau tidak, kaku otot atau tidak, keadaan ekstremitas atas maupun bawah, bentuk normal atau tidak, nilai tonus otot, terpasang infus/ tidak.
e)    Sistem Genitourinaria
Kaji frekuensi Buang Air Kecil (BAK) berapa kali/hari, kondisi alat genitalia ada kelainan atau tidak, pola urinaria normal/tidak, nyeri waktu BAK/tidak, warna urine.
f)    Sistem Integumen
Kaji suhu berapa derajat, turgor kulit, tekstur, bersisik  atau tidak, adakah luka memar  atau tidak, ada lesi atau tidak. Keadaan rambut, distribusi rambut merata /tidak, mudah tidak dicabut, bersih/kotor lebat/jarang, warna rambut.
g)    Sistem Neurosensoris
Pada hemoroid kemungkinan klien mengeluh pusing karena adanya perdarahan. Kaji adanya tremor, gangguan bicara /tidak, penglihatan klien, nilai GCS (Glasgow Coma Scale ), fungsi saraf  cranial.
h)    Sistem Endokrin
Kaji apakah ada pembesaran kelenjar tiroid, kelenjar getah bening, apakah mempunyai penyakit diabetes.
7.    Data Aspek Psiko, Sosial, Spiritual
1)    Aspek psikologis
Dampak psikologis dari klien mungkin dihadapkan rasa cemas akibat ketidaktahuan klien dengan adanya luka pada anus.
2)    Aspek sosial
Aspek sosial meliputi :
a)    Pola interaksi
b)    Lingkungan rumah.


3)    Aspek spiritual
Aspek spiritual yaitu tentang keyakinan nilai-nilai ketuhanan yang dianut, keyakinan dan harapan akan kesembuhan /kesehatannya.

B.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
a.    Nyeri akut berhubungan dengan adanya dilatasi vena hemoroidalis.
b.    Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan  penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrisi ke sel.
c.    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia akibat sekunder dari mual dan muntah.
d.    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
e.    Konstipasi berhubungan dengan nyeri waktu BAB
f.    Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
g.    Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri 
h.     Ansietas berhubungan dengan faktor kurang pengetahuan tentang penyakitnya.
i.    Risiko terjadinya infeksi berhubungan dengan  terjadinya trauma jaringan akibat penurunan hemoglobin.
j.    Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan pengeluaran integritas pembuluh darah akibat sekunder perdarahan anus

C.    RENCANA/INTERVENSI KEPERAWATAN
1.    Nyeri akut berhubungan dengan dilatasi vena hemoroidalis.
Tujuan     :    Rasa nyaman terpenuhi
Kriteria     :   -  Mengungkapkan nyeri berkurang
             - Tampak rileks, mampu tidur/ istirahat dengan tepat.
             -  Menunjukkan  penggunaan teknik relaksasi
Intervensi :
1.    Kaji ulang karakteristik dan lokasi nyeri, perhatikan isyarat verbal  dan non verbal.
Rasional : Membedakan karakteristik  khusus dari nyeri dan membantu membedakan nyeri pasca operasi dan terjadinya komplikasi.
2.    Observasi tanda-tanda vital.
Rasional :  Dapat mengetahui keadaan umum klien sehingga memudahkan   untuk intervensi selanjutnya.
3.    Ubah posisi klien pada posisi yang nyaman
Rasional :    Dengan mengubah posisi pada posisi yang nyaman dan tepat dapat mengurangi nyeri.
4.    Lakukan manajemen nyeri dengan cara teknik latihan relaksasi dan distraksi nyeri
Rasional :Merilekan otot, mengalihkan perhatian serta meningkatkankenyamanan.
5.    Kolaborasi pemberian terapi analgetik.
Rasional : Analgetik dapat menekan sistem saraf pusat dan menurunkan ketegangan otot sehingga dapat mengurangi nyeri.
2.    Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan  penurunan komponen seluler yang diperlukan untuk pengiriman oksigen dan nutrisi ke sel, peningkatnya kebutuhan protein dan vitamin untuk penyembuhan dan hipolemia
 Tujuan        :        Menunjukkan perfusi jaringan.
Kriteria         :        - Tanda-tanda vital stabil
                    - Membran mukosa warna merah muda
                    - Pengisian kapiler baik
                    - Pengeluaran urine adekuat.




Intervensi        :
1.    Awasi tanda vital, kaji pengisian kapiler, warna kulit/ membran mukosa dan dasar kuku
 Rasional :  Memberikan informasi tentang derajat keadekuatan perfusi jaringan dan membantu menentukan kebutuhan intervensi

2.    Catat keluhan rasa dingin, pertahankan suhu lingkungan dan tubuh hangat sesuai indikasi
Rasional : Vasokontriksi (ke organ vital) menurunkan sirkulasi perifer. Kenyamanan pasien/ kebutuhan rasa hangat harus seimbang dengan kebutuhan untuk menghindari panas berlebihan pencetus vasodilatasi (penurunan perfusi organ).
3.    Kolaborasi dalam pemeriksaan laboratorium, misal : Hb/Ht, jumlah sel darah merah
Rasional : Mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan/respon therafi
4.    Kolaborasi pemberian transfusi darah
Rasional : Meningkatkan jumlah pembawa oksigen, memperbaiki defisiensi untuk menurunkan risiko perdarahan.
5.    Kolaborasi pemeriksaan Hb post transfusi
Rasional : Mengetahui perkembangan klien dan menentukan therafi.
6.    Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
Rasional : Memaksimalkan transpor oksigen ke jaringan

3.    Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan protein dan vitamin untuk penyembuhan luka.
Tujuan                  :     -    Kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil              -    Porsi makan habis
-    Tidak terjadi penurunan berat badan 10-20% atau lebih di bawah berat badan ideal
Intervensi
1.    Anjurkan klien untuk makan makanan yang mengandung tinggi protein dan vitamin C
Rasional :  Protein diperlukan untuk pembentukan kolagen vitamin c juga membantu pembentukan kolagen dan mempertahankan integritas dinding kapiler
2.    Kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet TKTP
Rasional :  Diit TKTP membantu dalam penyembuhan luka
3.    Anjurkan untuk menghabiskan porsi makan
Rasional :  Untuk mengoptimalkan asupan nutrisi sehingga kebutuhan nutrisi terpenuhi

4.    Intoleransi aktivitas, berhubungan dengan kelemahan umum; penurunan kekuatan tubuh; nyeri; pembatasan aktivitas; depresi.
Kriteria Evaluasi :
-    Klien menyatakan pemahaman situasi faktor risiko dan program pengobatan individu
-    Menunjukkan teknik / perilaku yang mampu kembali melakukan aktivitas
Intervensi
1.    Tingkatkan tirah baring/duduk. Berikan lingkungan tenang; batasi pengunjung sesuai keperluan
Rasional : Meningkatkan istirahat dan ketenangan. Menyediakan energi yang digunakan untuk penyembuhan.
2.    Ubah posisi dengan sering, berikan perawatan kulit yang baik
Rasional :  Meningkatkan fungsi pernafasan dan meminimalkan tekanan pada area tertentu untuk menurunkan risiko kerusakan jaringan
3.    Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi, bantu melakukan latihan rentang gerak
sendi pasif dan aktif
rasional :  Tirah baring lama dapat menurunkan kemampuan. Ini dapat terjadi karena keterbatasan aktivitas yang mengganggu periode istirahat
4.    Awasi terulangnya anoreksia dan nyeri tekan pembesaran hati
Rasional : Menunjukkan kurangnya resolusi / eksaserbasi penyakit memerlukan istirahat lanjut
5.     Konstipasi  berhubungan dengan nyeri waktu BAB
Tujuan      :     Defekasi  kembali normal
Kriteria      :     - Buang air besar 1 x sehari.
                        - Tidak ada rasa penuh pada abdomen.
            - Bising usus antara 5-12 x /menit
Intervensi
1.    Auskultasi  adanya bising usus
Rasional :  Bising usus normal menandakan kembalinya fungsi usus.
2.    Anjurkan  untuk meningkatkan intake per oral khususnya cairan
Rasional :   Intake cairan yang cukup merangsang eliminasi dan mencegah  konstipasi defekasi
3.    Anjurkan untuk mengkonsumsi berserat
Rasional :   Makanan yang berserat dapat merangsang eliminasi dan mencegah konstipasi defekasi.
6.     Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
Tujuan                  :     -    Perawatan diri terpenuhi
Kriteria hasil          :    -    Klien dapat melaksanakan hygiene tanpa
bantuan orang lain
-    Klien mengungkapkan perasaan nyaman setelah     Hygiene

Intervensi
1.    Kaji kemampuan klien dalam merawat diri
Rasional :  Dengan mengkaji kemampuan klien dalam merawat diri dapat mengetahui tingkat ketergantungan klien
2.    Penuhi kebutuhan perawatan dan hygiene klien
Rasional :  Dapat memenuhi kebutuhan perawatan diri klien
3.    Anjurkan tentang teknik perawatan diri klien
Rasional :  Dengan mengajarkan tantang teknik perawatan diri, klien dapat mengetahui teknik perawatan diri sehingga dapat mencegah infeksi
4.    Berikan kesempatan pada klien untuk memenuhi kebutuhan higienenya
Rasional :  Dapat meningkatkan kemandirian klien
7.     Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri
Tujuan                  :     -    Kebutuhan tidur terpenuhi
Kriteria hasil          :    -    Tidur cukup ± 8 jam sehari
-    Wajah klien tampak segar
Intervensi
1.    Ciptakan lingkungan  yang nyaman
Rasional :   Lingkungan yang nyaman dapat memberikan suasana yang tenang sehingga klien dapat tidur dengan mudah
2.    Berikan informasi tentang kebutuhan untuk tidur
Rasional :  Memotivasi klien sehingga dapat mulai tidur
3.    Berikan periode tidur ekstra misalkan tidur siang
Rasional :  Membantu meningkatkan istirahat, tidur,  relaksasi dan menurunkan rangsang

8.    Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan.
Tujuan     :     Kecemasan teratasi
Kriteria hasil     :     -  Melaporkan penurunan rasa takut dan cemas yang                                          berkurang ke tingkat yang dapat diatasi.
-    Tampil santai, dapat beristirahat/ tidur cukup.
Intervensi :
1.    Beri informasi tentang penyakit yang dideritanya dan cara perawatannya.
Rasional : Untuk meningkatkan pengetahuan klien dan meningkatkan partisipasi klien/keluarga dalam program perawatan.
2.    Berikan support terhadap tahap-tahap proses kehilangan tatus kesehatan.
Rasional : Untuk mendapat ketenangan dalam diri klien dan memberikan gambaran terhadap tahap-tahap sakit.
3.    Beri kesempatan untuk mengungkapkan rasa cemasnya.
Rasional : Untuk meringankan beban pikiran klien dan mengekspresikan perasaannya secara konstruktif.
4.    Gunakan komunikasi terapeutik
Rasional : Agar segala yang disampaikan dan diajarkan pada klien dapat memberikan hasil yang efektif.
5.    Temani klien bila gejala-gejala kecemasan timbul.
Rasional : Untuk menghindari kecemasan yang berlanjut sehingga tidak terjadi injuri 



9.    Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan kerusakan integritas kulit/jaringan anus
Tujuan           : Infeksi tidak terjadi.
Kriteria hasil  : - Mempertahankan lingkungan aseptik yang aman.
-    Intervensi untuk mengurangi potensi infeksi.
Intervensi :
1.    Kaji tanda-tanda infeksi
Rasional : Dengan adanya peningkatan tanda-tanda vital pada klien dapa diketahui adanya infeksi pada tubuh.
2.    Anjurkan sitz bath seacra reguler dengan memperhatikan teknik antiseptik.
Rasional : Menjaga kebersihan dan aseptik luka untuk mencegah berkembang biaknya mikroorganisme.
3.    Berikan antibiotik sesuai petunjuk.
Rasional : Membunuh/mencegah berkembang biaknya mikroorganisme.
4.    Ulangi studi ulang laboratorium
Rasional :  leukosit indikator adanya proses infeksi.
10.    Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan pengeluaran pembuluh darah sekunder akibat perdarahan anus.
Tujuan : Keseimbangan cairan adekuat
Kriteria hasil : - Tanda-tanda vital yang stabil
-    Palpasi denyut nadi dengan kualitas yang baik.
-    Turgor kulit normal
-    Membran mukosa lembab
1.    Ukur dan catt intake output cairan
Rasional : Dokumentasi yang adekuat dapat mengidentifikasi kebutuhan cairan yang mempengaruhi intervensi.
2.    Pantau tanda-tanda vital
Rasional :  Hipotensi, takikardi/ bradikardi mengindikasikan kekurangan  cairan
3.    Pantau suhu kulit, palpasi, denyut perifer
Rasional : Kulit yang dingin, denyut yang lemah mengindikasikan penurunan sirkulasi perifer dan dibutuhkan penggantian cairan tambahan.
4.    Berikan cairan parenteral sesuai kebutuhan
Rasional : Gantikan kehilangan cairan yang telah didokumentasikan.
5.    Pantau  haemoglobin  dan haematokrit
Rasional : Indikator  hidrasi/ volume sirkulasi